RSS

Minggu, 06 Desember 2015

Now?

My dear,
it means something when you started to hide a thing from me.

I was very confident about myself.
I felt so great. 
Then i found you did the things that i thought you wouldn't do because you know it would hurt me.

Love,
You're good about making me feel bad.
good enough to make me think that it was my fault.
I forgot you're also a human being,
not a God with perfection.
I forgot you always had this probability to hurt me.

I thought we were gold.
I thought I was special.
I thought I was precious.
But, Love,
Now i really don't know what to do about this.

Senin, 24 Agustus 2015

What eat me alive from the inside

We found each other when we needed each other at the most.
Maybe we don't need each other anymore.
Maybe you just don't need me anymore.

I always be the one who is chasing for conversation,
And you never check out on me first.
Well maybe you did, but after two days when there's no news from me.
Sometimes it has to take more days.

And i'm tired of chasing.

I never said it out loud before,
cause i always hold it inside.
Everytime i felt tired, i talked to myself, 
"Everything is gonna be alright",
"Tommorow's gonna be OK", or
"Go to bed now, it's just a bad day".
But now I can't hold it anymore.
I'm tired...
I'm really tired
sorry, but i'm tired.
i'm tired.

I used to be a bright kid!
i was the sun!
i was the summer!
but then i turned into this gloomy person!
in pathetic way!

Maybe it's because the life itself.
or maybe because of you.
i don't know.
i'm not sure.

but anything i know for sure,
i'm tired.
I can't live like this anymore.

Selasa, 07 Januari 2014

Kantung Tidur vs. Kasur

Aku dan kantung tidurku.
Bersama kami berpetualang,
Melangkah kemana mataku membawa.
Bersama kami menatap bintang,
Dan ia siaga melindungiku dari dinginnya malam.

Namun jika aku pulang ke rumah,
tentunya tak akan aku tidur dalam kantung tidur.
Aku akan kembali tidur di kasurku.
Merebah lalu menyerah pada nyamannya..

Kantung tidur,
betapa pun kau menemani setiap aku ingin menantang dunia,
Namun tak ada yang mengalahkan kerinduanku untuk tidur di kasurku.

Sabtu, 30 November 2013

Permen Gula Manis

Ada manis yang menjalari lidahku
saat aku menyesap bibirmu.
Manis yang sama seperti rasa dari permen yang kau suguhkan kepadaku pagi tadi.
Permen yang sama dari tahun lalu, 
yang kau berikan ketika aku bertanya kemana akan kamu bawa hatiku.

Adakah kau juga memakan permen itu?
Ataukah ini sisa manis dari bibirku yg aku tinggal pagi tadi, 
lalu kini kembali lagi ke lidahku?
Saat aku kembali bertanya, kemana akan kamu bawa hatiku?

Sayang..
tahukah kamu,
benda dengan pemanis buatan semacam itu akan membuat tenggorokanmu sakit jika kamu mengonsumsinya terlalu banyak?
Membuatmu merasakan sakit tiap menelan,
Hingga kau akan lebih memilih diam.

Jadi,
jika besok aku bertanya lagi kemana akan kamu bawa hatiku,
berikanlah jawaban...
Jangan kamu beri aku sakit lagi lewat manis permenmu.

Kamis, 22 Agustus 2013

Tak Sama Rasa

Aku akui,
Aku menikmati hari-hari dengan kamu di sisi.
Bersamamu,
Dimengerti oleh kamu.
Aku bahagia.
Tapi tidak cinta.

Aku tahu bagaimana hatimu untukku.
Tak sejalan dengan yang aku punya untukmu.
Aku mencoba,
Tak ada perubahan rasa.

Ini tentang dua kepentingan berbeda.
Tentang kamu yang tak ingin melepasku.
Tentang aku yang tak merasa bisa bersamamu.
Tentang kamu yang ingin terus membahagiakan aku.
Tentang aku yang merasa timpang karena tak sama rasa.


Yang perlu kamu tahu,
Aku merasa bahagia bersamamu.
Pernah.

Minggu, 28 Juli 2013

Selamat berbahagia..



Peluru sudah ditembakkan ke udara,
Barisan tentara juga telah dibubarkan,
Terlihat bunga tabur menggunung menutupi tanah merah.

Sore itu,
kami berkumpul mengelilingi pusara dengan kepala tertunduk,
kami bersama-sama mengucap doa untukmu.
Angin sejuk pun berhembus seiring lantunan doa,
bagai engkau hadir dan memeluk kami semua.

Telah usai perjuanganmu melawan dunia, Kolonel..
Tiba saatnya engkau beristirahat dan menikmati kedamaian..
Selamat berbahagia dalam kekekalan..

Selasa, 23 Juli 2013

Ternyata Sudah Seribu Hari



Empat puluh hari, satu tahun, seribu hari, tidak begitu penting bagiku. Aku tidak pernah menghitungnya. Kalau tidak diingatkan, aku tidak akan tahu.

Kepergiannya tidak begitu terasa nyata di pikiranku.. Hanya seperti sedang tidak melihatnya. Sungguh. Rasanya sama seperti dia sedang pergi merangkai bunga atau belanja keperluan rumah.

Kami jarang berinteraksi tatap muka. Kalau bertemu, lebih sering bertengkar.

Semasa hidupnya, kami punya kesibukkan masing-masing. Terlebih lagi di tahun-tahun terakhirnya, ketika dia lebih sering di rumah sakit dan aku menempuh pendidikan di kota lain.

Aku sudah terbiasa memilik jarak dengannya, aku sudah terbiasa tidak merasakan kehadiran fisiknya..

Tapi aku terbiasa meneleponnya ketika ada barang yang tertinggal atau ketika aku kesal mendapat nilai jelek. Aku juga sering meneleponnya untuk membukakan pintu rumah saat aku pulang larut malam. Ketika aku patah hati. Ketika aku sakit. Ketika aku butuh bantuan.

Beberapa hari yang lalu, aku bangun dan meraba-raba mencari ponsel. Lalu refleks aku menekan nomor ponselnya. Butuh beberapa waktu untuk aku terbangun sepenuhnya dan sadar nomor ponselnya sudah tidak aku aktifkan lagi. Suara yang sama tidak akan menyahut panggilanku lagi.

Dia yang menyelesaikan segala sesuatu untukku. Mendukung kegiatanku agar aku berkembang. Mencarikan penyelesaian untuk permasalahanku. Mendoakan ketika usaha tidak menampakkan hasil.

Dia yang mengenalkan aku pada Sang Esa, hingga membuat aku bertemu sahabat-sahabat baikku, yang mempertemukan aku pada kecintaan pertamaku.

Dia yang menginginkan aku menjadi kuat yang memberi aku nama dengan doa agar aku tumbuh menjadi kuat, yang di hari-hari akhirnya mengatakan kebanggaannya atas aku yang menurutnya sudah kuat.

Dia yang kepergiannya sudah aku ikhlaskan jauh sebelum hari ini tiba, bahkan ketika aku masih menggenggam tangannya dan kami masih bisa saling bercerita..

Aku tahu dia kuat. Tapi diagnosa kanker terdengar seperti vonis mati di telingaku.

Dan betul, dia kuat. Hanya saja kankernya jauh lebih kuat.

Dalam satu perjalanan pulang ke rumah, aku tersadar bahwa ada kemungkinan dia tidak akan sempat melihat aku wisuda. Dibanding menggantungkan harapan tinggi, aku memilih untuk perlahan belajar merelakan kepergiannya yang sewaktu-waktu.. Aku tidak sekuat itu untuk berharap.

Dan dia pun pergi di dini hari itu. Aku tidak terkejut, justru sangat tenang. Aku masih bisa menenangkan eyang dan opung yang terlihat sangat terpukul.

Aku sedih. Terbayang rencana-rencana yang kami susun tidak akan terlaksana, bagaimana sulitnya aku jika dia tak ada. Tapi bukan cuma aku manusia di dunia ini yang kehilangan ibu. Cepat atau lambat, kami pasti berpisah, entah aku atau dia yang meninggalkan atau ditinggalkan. 

Sekarang, setelah seribu hari, matahari masih bersinar dan dunia tidak lantas kiamat. Masih banyak perjumpaan dan perpisahan lain yang harus dihadapi. Hidupku terus berjalan. Hanya saja tidak akan ada lagi dia yang menjawab teleponku ketika aku tidak tahu harus melakukan apa..

But don't worry, mom..
I can take care of myself now.