RSS

Sabtu, 30 November 2013

Permen Gula Manis

Ada manis yang menjalari lidahku
saat aku menyesap bibirmu.
Manis yang sama seperti rasa dari permen yang kau suguhkan kepadaku pagi tadi.
Permen yang sama dari tahun lalu, 
yang kau berikan ketika aku bertanya kemana akan kamu bawa hatiku.

Adakah kau juga memakan permen itu?
Ataukah ini sisa manis dari bibirku yg aku tinggal pagi tadi, 
lalu kini kembali lagi ke lidahku?
Saat aku kembali bertanya, kemana akan kamu bawa hatiku?

Sayang..
tahukah kamu,
benda dengan pemanis buatan semacam itu akan membuat tenggorokanmu sakit jika kamu mengonsumsinya terlalu banyak?
Membuatmu merasakan sakit tiap menelan,
Hingga kau akan lebih memilih diam.

Jadi,
jika besok aku bertanya lagi kemana akan kamu bawa hatiku,
berikanlah jawaban...
Jangan kamu beri aku sakit lagi lewat manis permenmu.

Kamis, 22 Agustus 2013

Tak Sama Rasa

Aku akui,
Aku menikmati hari-hari dengan kamu di sisi.
Bersamamu,
Dimengerti oleh kamu.
Aku bahagia.
Tapi tidak cinta.

Aku tahu bagaimana hatimu untukku.
Tak sejalan dengan yang aku punya untukmu.
Aku mencoba,
Tak ada perubahan rasa.

Ini tentang dua kepentingan berbeda.
Tentang kamu yang tak ingin melepasku.
Tentang aku yang tak merasa bisa bersamamu.
Tentang kamu yang ingin terus membahagiakan aku.
Tentang aku yang merasa timpang karena tak sama rasa.


Yang perlu kamu tahu,
Aku merasa bahagia bersamamu.
Pernah.

Minggu, 28 Juli 2013

Selamat berbahagia..



Peluru sudah ditembakkan ke udara,
Barisan tentara juga telah dibubarkan,
Terlihat bunga tabur menggunung menutupi tanah merah.

Sore itu,
kami berkumpul mengelilingi pusara dengan kepala tertunduk,
kami bersama-sama mengucap doa untukmu.
Angin sejuk pun berhembus seiring lantunan doa,
bagai engkau hadir dan memeluk kami semua.

Telah usai perjuanganmu melawan dunia, Kolonel..
Tiba saatnya engkau beristirahat dan menikmati kedamaian..
Selamat berbahagia dalam kekekalan..

Selasa, 23 Juli 2013

Ternyata Sudah Seribu Hari



Empat puluh hari, satu tahun, seribu hari, tidak begitu penting bagiku. Aku tidak pernah menghitungnya. Kalau tidak diingatkan, aku tidak akan tahu.

Kepergiannya tidak begitu terasa nyata di pikiranku.. Hanya seperti sedang tidak melihatnya. Sungguh. Rasanya sama seperti dia sedang pergi merangkai bunga atau belanja keperluan rumah.

Kami jarang berinteraksi tatap muka. Kalau bertemu, lebih sering bertengkar.

Semasa hidupnya, kami punya kesibukkan masing-masing. Terlebih lagi di tahun-tahun terakhirnya, ketika dia lebih sering di rumah sakit dan aku menempuh pendidikan di kota lain.

Aku sudah terbiasa memilik jarak dengannya, aku sudah terbiasa tidak merasakan kehadiran fisiknya..

Tapi aku terbiasa meneleponnya ketika ada barang yang tertinggal atau ketika aku kesal mendapat nilai jelek. Aku juga sering meneleponnya untuk membukakan pintu rumah saat aku pulang larut malam. Ketika aku patah hati. Ketika aku sakit. Ketika aku butuh bantuan.

Beberapa hari yang lalu, aku bangun dan meraba-raba mencari ponsel. Lalu refleks aku menekan nomor ponselnya. Butuh beberapa waktu untuk aku terbangun sepenuhnya dan sadar nomor ponselnya sudah tidak aku aktifkan lagi. Suara yang sama tidak akan menyahut panggilanku lagi.

Dia yang menyelesaikan segala sesuatu untukku. Mendukung kegiatanku agar aku berkembang. Mencarikan penyelesaian untuk permasalahanku. Mendoakan ketika usaha tidak menampakkan hasil.

Dia yang mengenalkan aku pada Sang Esa, hingga membuat aku bertemu sahabat-sahabat baikku, yang mempertemukan aku pada kecintaan pertamaku.

Dia yang menginginkan aku menjadi kuat yang memberi aku nama dengan doa agar aku tumbuh menjadi kuat, yang di hari-hari akhirnya mengatakan kebanggaannya atas aku yang menurutnya sudah kuat.

Dia yang kepergiannya sudah aku ikhlaskan jauh sebelum hari ini tiba, bahkan ketika aku masih menggenggam tangannya dan kami masih bisa saling bercerita..

Aku tahu dia kuat. Tapi diagnosa kanker terdengar seperti vonis mati di telingaku.

Dan betul, dia kuat. Hanya saja kankernya jauh lebih kuat.

Dalam satu perjalanan pulang ke rumah, aku tersadar bahwa ada kemungkinan dia tidak akan sempat melihat aku wisuda. Dibanding menggantungkan harapan tinggi, aku memilih untuk perlahan belajar merelakan kepergiannya yang sewaktu-waktu.. Aku tidak sekuat itu untuk berharap.

Dan dia pun pergi di dini hari itu. Aku tidak terkejut, justru sangat tenang. Aku masih bisa menenangkan eyang dan opung yang terlihat sangat terpukul.

Aku sedih. Terbayang rencana-rencana yang kami susun tidak akan terlaksana, bagaimana sulitnya aku jika dia tak ada. Tapi bukan cuma aku manusia di dunia ini yang kehilangan ibu. Cepat atau lambat, kami pasti berpisah, entah aku atau dia yang meninggalkan atau ditinggalkan. 

Sekarang, setelah seribu hari, matahari masih bersinar dan dunia tidak lantas kiamat. Masih banyak perjumpaan dan perpisahan lain yang harus dihadapi. Hidupku terus berjalan. Hanya saja tidak akan ada lagi dia yang menjawab teleponku ketika aku tidak tahu harus melakukan apa..

But don't worry, mom..
I can take care of myself now.

Kamis, 18 Juli 2013

"Kenapa berhenti?", katamu.



Cinta pertamaku,
yang membuatku mengerti bahwa dengan memberi aku bahagia.
Semangat hidupku,
yang menggerakkan hariku dengan senyum dan semangat
Kebangganku, 
yang membuatku merasa berharga.
Kemampuan terbaikku,
yang menghadirkan aku hingga terasa bamakna.

Aku sadar aku tidak sebaik yang lain,
tapi aku menyerahkan keringat dan waktuku untuk semua ini.
Terkadang darahku pun ikut berpartisipasi mencapainya.
Meskipun ternyata itu tidak cukup,
aku tak menyesali semua yang sudah kuberi.

Aku menjalani hidupku untukmu.
Aku menyerahkan kebahagiaanku untukmu.
Dan semua tampak tak cukup bagimu.

Kamu memberi nyeri,
saat kamu bertanya mengapa aku berhenti,
ketika aku sudah memutuskan untuk mengakhiri,
setelah sebelumnya kamu menyuruhku berhenti berkali-kali,
dan bahkan tak peduli..

Selasa, 02 April 2013

Kamuflase



Bagaimana aku bisa menatap matamu?
ketika aku sudah tahu kebenarannya,
bahwa aku bukan satu-satunya..

Bagaimana aku berani bertanya?
ketika Aku sudah tahu jawabannya,
namun tak berani mendengarnya langsung darimu

Bagaimana aku bisa memelukmu tanpa terisak?
ketika hatimu tak lagi utuh dalam raga yang merengkuhku,
terbagi untuknya yang ku tahu siapa..


Pagi ini,
kamu akan menanyakan sembab wajahku,
dan aku akan berpura-pura terkena flu..

Minggu, 31 Maret 2013

Yang Terluka Karena Kami..




Aku mencintainya dan Dia juga mencintaiku.
Dengan setiap kekurangan yang Kami miliki,
Dengan setiap perbedaan yang Kami punyai.

Bukannya Aku tidak tahu Kamu terluka,
Justru raguku muncul karena lukamu.

Aku sangat menyayangimu dan Aku peduli akan lukamu.

Mungkinkah Kamu tidak merasakan besar cintaku kepadanya?

Kamu mengenalku lebih dulu,
Jauh sebelum Dia sanggup melafalkan nama lengkapku.
Kamu mencintaiku lebih dulu,
Jauh sebelum Dia mampu menyanyikan lagu kesukaanku.
Kamu memilikiku lebih dulu,
Jauh sebelum Dia bisa memberiku rasa nyaman dalam peluknya.

Mungkinkah Kamu tidak merasakan besar cintanya kepadaku?

Padamu, ibuku...
Aku bersimpuh meminta restu
Walau Aku dan Dia tak menyebut Tuhan dengan nama yang sama..

Rabu, 20 Februari 2013

A Man Like You, One Is Enough..

Halo, dr. Beno Wicaksono, Sp. BTKV..

Aku Maria dan umurku masih 22 tahun. Sebetulnya aku mau manggil Dokter Beno dengan sebutan "Om Beno", tapi karena kita belum terlalu akrab, lebih baik aku panggil Dokter Beno saja, ya. Ketimbang dengan sebutan "Om" tapi Dokter Beno jadi tidak nyaman...

Istri dokter, Alexandra Rhea, banyak cerita tentang hidupnya. Tentang pekerjaan, persahabatan dengan Wina, dan sebagian besar tentang hubungannya dengan dokter... Dari cerita Tante Alex, aku jadi tahu kalau kita punya banyak kesamaan. Mulai dari kesukaanku pada mobil Rovie hitam hingga ngemil makanan manis. Dan sebagai orang yang ingin punya pasangan seorang dokter, profesi Dokter Beno menjadi nilai plus atas penilaianku pada dokter. Tapi yang membuat aku terkesan pada dokter adalah cara dokter menghadapi Tante Alex.

Keegoisanku mungkin bisa diadu dengan Tante Alex.. Karenanya, bersamaku mungkin bukanlah hal yang mudah.. Tentu aku terus berusaha memperbaiki diri, tapi aku berharap akan ada yang berjuang untuk terus bersamaku. Sesulit apapun itu. Seperti dokter Beno yang dalam keadaan sakit tetap menyusul Tante Alex dan berkata,
"This is me, Yang, not letting you go."
Emosiku sering ikut terbawa cerita Tante Alex. Kalian yang sering bertengkar dan Tante Alex yang sering nangis. Ditambah lagi cerita perjuangan mengharukan hingga kini penuh senyum karena ada 'lil ndut. Mungkin hidup memang sudah seharusnya naik dan turun seperti pada kardiograf, ya, Dokter.. Karena jika datar, berarti mati..

Seperti Dokter Beno yang menemani Tante Alex di naik dan turunnya kehidupan kalian, aku juga ingin nantinya menemukan orang yang tepat. Hingga kelak, dengan mantap aku bisa mengucapkan kalimat yang sama seperti Tante Alex :
"Ladies and gentlemen, my husband.."


Sincerely,
Maria

Kamis, 03 Januari 2013

Kejutan

masihkah jantung kita berdetak dengan tempo yang sama?
karena milikku berhenti sejenak waktu kamu berkata "tidak"

02.44

Berkali-kali namamu aku panggil.
Makin lirih.
Belum juga terdengar sahutan.

Aku tertidur dengan ponsel di genggaman.
Berjaga-jaga jika kau menghubungiku.
Getar ponsel nanti akan membangunkanku,
lalu kita bicara.

dan..
ini bukan kali pertama aku berkata,
aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.