Empat puluh hari, satu tahun, seribu hari, tidak begitu penting bagiku. Aku tidak pernah menghitungnya. Kalau tidak diingatkan, aku tidak akan tahu.
Kepergiannya tidak begitu terasa nyata di pikiranku.. Hanya seperti sedang tidak melihatnya. Sungguh. Rasanya sama seperti dia sedang pergi merangkai bunga atau belanja keperluan rumah.
Kami jarang berinteraksi tatap muka. Kalau bertemu, lebih sering bertengkar.
Semasa hidupnya, kami punya kesibukkan masing-masing. Terlebih lagi di tahun-tahun terakhirnya, ketika dia lebih sering di rumah sakit dan aku menempuh pendidikan di kota lain.
Aku sudah terbiasa memilik jarak dengannya, aku sudah terbiasa tidak merasakan kehadiran fisiknya..
Tapi aku terbiasa meneleponnya ketika ada barang yang tertinggal atau ketika aku kesal mendapat nilai jelek. Aku juga sering meneleponnya untuk membukakan pintu rumah saat aku pulang larut malam. Ketika aku patah hati. Ketika aku sakit. Ketika aku butuh bantuan.
Beberapa hari yang lalu, aku bangun dan meraba-raba mencari ponsel. Lalu refleks aku menekan nomor ponselnya. Butuh beberapa waktu untuk aku terbangun sepenuhnya dan sadar nomor ponselnya sudah tidak aku aktifkan lagi. Suara yang sama tidak akan menyahut panggilanku lagi.
Dia yang menyelesaikan segala sesuatu untukku. Mendukung kegiatanku agar aku berkembang. Mencarikan penyelesaian untuk permasalahanku. Mendoakan ketika usaha tidak menampakkan hasil.
Dia yang mengenalkan aku pada Sang Esa, hingga membuat aku bertemu sahabat-sahabat baikku, yang mempertemukan aku pada kecintaan pertamaku.
Dia yang menginginkan aku menjadi kuat yang memberi aku nama dengan doa agar aku tumbuh menjadi kuat, yang di hari-hari akhirnya mengatakan kebanggaannya atas aku yang menurutnya sudah kuat.
Dia yang kepergiannya sudah aku ikhlaskan jauh sebelum hari ini tiba, bahkan ketika aku masih menggenggam tangannya dan kami masih bisa saling bercerita..
Aku tahu dia kuat. Tapi diagnosa kanker terdengar seperti vonis mati di telingaku.
Dan betul, dia kuat. Hanya saja kankernya jauh lebih kuat.
Dalam satu perjalanan pulang ke rumah, aku tersadar bahwa ada kemungkinan dia tidak akan sempat melihat aku wisuda. Dibanding menggantungkan harapan tinggi, aku memilih untuk perlahan belajar merelakan kepergiannya yang sewaktu-waktu.. Aku tidak sekuat itu untuk berharap.
Dan dia pun pergi di dini hari itu. Aku tidak terkejut, justru sangat tenang. Aku masih bisa menenangkan eyang dan opung yang terlihat sangat terpukul.
Aku sedih. Terbayang rencana-rencana yang kami susun tidak akan terlaksana, bagaimana sulitnya aku jika dia tak ada. Tapi bukan cuma aku manusia di dunia ini yang kehilangan ibu. Cepat atau lambat, kami pasti berpisah, entah aku atau dia yang meninggalkan atau ditinggalkan.
Sekarang, setelah seribu hari, matahari masih bersinar dan dunia tidak lantas kiamat. Masih banyak perjumpaan dan perpisahan lain yang harus dihadapi. Hidupku terus berjalan. Hanya saja tidak akan ada lagi dia yang menjawab teleponku ketika aku tidak tahu harus melakukan apa..
But don't worry, mom..
I can take care of myself now.



0 komentar:
Posting Komentar