RSS

Kamis, 18 Juli 2013

"Kenapa berhenti?", katamu.



Cinta pertamaku,
yang membuatku mengerti bahwa dengan memberi aku bahagia.
Semangat hidupku,
yang menggerakkan hariku dengan senyum dan semangat
Kebangganku, 
yang membuatku merasa berharga.
Kemampuan terbaikku,
yang menghadirkan aku hingga terasa bamakna.

Aku sadar aku tidak sebaik yang lain,
tapi aku menyerahkan keringat dan waktuku untuk semua ini.
Terkadang darahku pun ikut berpartisipasi mencapainya.
Meskipun ternyata itu tidak cukup,
aku tak menyesali semua yang sudah kuberi.

Aku menjalani hidupku untukmu.
Aku menyerahkan kebahagiaanku untukmu.
Dan semua tampak tak cukup bagimu.

Kamu memberi nyeri,
saat kamu bertanya mengapa aku berhenti,
ketika aku sudah memutuskan untuk mengakhiri,
setelah sebelumnya kamu menyuruhku berhenti berkali-kali,
dan bahkan tak peduli..

0 komentar:

Posting Komentar